Rabu, 28 April 2010

Menurut Jaspers, ada tiga cara untuk mendekati “ada” sebagai “yang merangkumi” itu :

1. Pertama-tama kita dapat mendekatinya dengan berpangkal dari diri kita sebagai Dasein, sebagai pengada yang berada di tengah-tengah segala pengada yang lain. Sebagai Dasein di satu pihak kita sama dengan pengada-pengada yang lain, di tengah-tengahnya kita berada, yaitu bahwa kita dapat dijadikan obyek atau sasaran pemikiran serta penyelidikan (umpamanya di dalam ilmu alam, biologi, psikologi). Akan tetapi di lain pihak kita berbeda dengan pengada-pengada yang lain. Sebab jikalau kita memikirkan atau menyelidiki pengada-pengada, hal itu kita lakukan dari suatu pusat, dari mana segala objektivasi dilakukan. Pusat itu sendiri tidak dapat diobyektivasikan. Pusat itu, yang berfungsi sebagai subjek, tidak dapat dikenal seperti kita mengenal apa yang kita jadikan obyek pengenalan. Sekalipun demikian kita dapat berusaha untuk menjelaskannya (erhellen), bukan untuk mengenalnya (erkennen). Kita dapat menginsyafi, bahwa yang sebagai subjek tidak dapat diobyektivasikan itu, dapat menerobos atau melewati segala batas-batas objektivasi. Di sinilah kita sebagai subjek Nampak sebagai “ yang merangkumi”, yaitu sebagai “ada”, namun “ada” yang adalah kita sendiri (das Umgreifende das wir sind), jadi belum “ada” dalam dirinya sendiri.

Ada cara lain lagi untuk mendekati “ada” yang adalah kita sendiri ini, yaitu dengan melalui kesadaran (bewusstsein). Bagi kita, yang benar-benar ada dalam kenyataan adalah apa yang ada bagi kesadaran. Sebaliknya, apa yang bagi kesadaran tidak ada, bagi kita juga tidak ada dalam kenyataan. Demikianlah kesadaran adalah perlu mutlak guna menjadikan apa saja menjadi benar-benar ada bagi kita. Jika demikian, sama halnya dengan pusat diri kita sebagai subjek, kesadaran menerobos atau melewati segala batas objektivasi. Kesadaran yang kita miliki termasuk kesadaran yang umum (Bewusstsein Uberhaupt). Di dalam kesadaran umum inilah kita Nampak sebagai “ada” yang merangkumi, yang adalah diri kita sendiri.

Akhirnya kita adalah roh (Geist), yaitu kesatuan dan keseluruhan dari apa yang kita pikirkan, yang kita buat, yang kita rasakan, dengan kata lain, pusat yang dinamis, dari mana kita menampakkan diri kita sebagai yang menerobos, yang merangkumi segala batas obyektivitasi. Demikianlah di dalam roh ini kita menampakkan diri sebagai “ada”, yang adalah diri kita sendiri.

Akan tetapi harus diingat, bahwa “ada” yang adalah kita sendiri ini bukanlah “ada” yang sebenarnya. Semuanya itu adalah cara “ada” berada, yang menunjuk ke arah mana kita dapat lebih mendekati “ada” yang merangkum, dalam arti sebenarnya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar